Wamenko Pangan Tekankan Ternak Integrasi Atasi Defisit Daging
Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq menilai ternak integrasi dapat menjadi salah satu pendekatan untuk menekan defisit daging nasional. Pendekatan ini, menurutnya, layak dikaji kembali sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan hewani.

Menurut Hanif, model yang mengintegrasikan usaha peternakan dengan kegiatan perkebunan—termasuk pada lahan kelapa sawit—memiliki potensi sinergi yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pasokan daging nasional. Ia mendorong pemangku kepentingan untuk mengeksplorasi skema yang dapat menggabungkan efisiensi produksi dan pemanfaatan sumber daya yang ada.
Alasan dukungan terhadap ternak integrasi
Wamenko Pangan menyoroti bahwa integrasi sektor perkebunan dan peternakan membuka ruang bagi berbagai kemungkinan kolaborasi. Secara umum, integrasi semacam ini dipandang memiliki beberapa keuntungan potensial, lain diversifikasi pemanfaatan lahan dan peluang nilai tambah bagi petani dan peternak.
Pendekatan integratif juga disebut dapat menjadi alternatif strategi untuk meningkatkan produktivitas tanpa perlu menambah lahan baru secara signifikan. Dalam konteks ini, Hanif menilai integrasi layak dikembangkan sebagai bagian dari rangkaian opsi kebijakan guna mengurangi ketergantungan terhadap pasokan daging impor.
Tantangan yang perlu diperhatikan
Meski melihat potensi, Wamenko Pangan menggarisbawahi bahwa penerapan ternak integrasi tidak lepas dari tantangan. Beberapa aspek perlu dikaji secara matang agar implementasi berjalan efektif dan berkelanjutan, baik dari sisi teknis, lingkungan, maupun aspek sosial ekonomi petani dan peternak.
Isu-isu seperti manajemen pakan, kesejahteraan hewan, distribusi keuntungan, hingga tata kelola lahan menjadi area yang memerlukan perhatian dalam perencanaan. Hanif menekankan pentingnya kajian yang komprehensif sebelum skala program diperluas, agar potensi manfaat nyata dapat tercapai tanpa menimbulkan dampak negatif yang tidak diinginkan.
Peran stakeholder dan langkah kebijakan
Dalam pandangan Wamenko Pangan, keberhasilan skema ternak integrasi bergantung pada keterlibatan berbagai pemangku kepentingan. Pemerintah pusat dan daerah, pelaku usaha perkebunan, peternak, akademisi, serta lembaga riset perlu terlibat untuk merancang model yang sesuai dengan kondisi lokal.
Hanif mendorong dialog dan pilot project sebagai tahap awal untuk menguji kelayakan model integrasi. Pendekatan bertahap memungkinkan adaptasi praktik terbaik dan mitigasi risiko sebelum dilakukan skala lebih besar. Selain itu, dukungan kebijakan dan skema insentif yang tepat dinilai penting untuk mendorong partisipasi pelaku usaha dan petani.
Wamenko Bidang Pangan menempatkan ternak integrasi sebagai salah satu opsi dalam upaya memperkuat ketahanan pangan hewani. Ia menyarankan agar kajian, perencanaan, dan pelibatan stakeholder dilakukan secara hati-hati agar potensi manfaat dapat direalisasikan tanpa menimbulkan konsekuensi lingkungan atau sosial yang merugikan.