Trent Alexander-Arnold marah setelah dicoret dari skuad Inggris
Trent Alexander-Arnold mengaku merasa marah dan kecewa setelah menerima kabar bahwa ia tidak masuk dalam skuad Inggris untuk Piala Dunia. Bek Real Madrid itu mengatakan penolakan tersebut membuatnya benar-benar terpukul, namun bertekad memakai pengalaman itu sebagai motivasi untuk menghidupkan kembali karier internasionalnya. Alexander-Arnold menutup musim pertamanya di Spanyol dengan harapan bisa masuk ke dalam daftar pemain yang berangkat ke turnamen besar, tetapi pada akhirnya diberitahu kabar yang paling ditakutkan saat menerima panggilan di rumahnya di Madrid. Situasi ini memperpanjang absennya dari tim nasional, meski ia menyatakan masih menganggap dirinya sebagai pemain Inggris hingga pensiun.
Reaksi langsung sang pemain
Alexander-Arnold tidak menyembunyikan emosinya ketika berbicara tentang keputusan pelatih. Ia mengungkapkan harapan besar sebelum pengumuman: “I’ll be honest, I was full of hope,”. Setelah panggilan itu selesai, ia merasa sangat terpukul: “When I put the phone down, I was properly gutted. “I hope the coaching staff would expect and understand that I was angry.” Pernyataan itu menunjukkan betapa kuatnya keinginan sang bek untuk kembali membela timnas. Meski kecewa, Alexander-Arnold menegaskan nilai ambisinya sebagai alasan masih layak dipertimbangkan: “He wants players who are desperate to play for England. I am one of those,”. Sikapnya jelas; ia tidak akan mundur dari upaya merebut kembali tempat di timnas.
Rencana untuk bangkit di Madrid
Pemain berusia 27 tahun ini menyatakan niatnya untuk menjadikan penolakan itu sebagai bahan bakar demi memperbaiki penampilan bersama klub. “I want to use it as fuel to get back into England squads and then back in an England shirt,” ujarnya, menunjukkan fokusnya musim ini adalah memaksimalkan kesempatan di Real Madrid agar kembali masuk radar pelatih timnas. Statistik musim pertamanya di Spanyol menunjukkan ia tampil di 35 dari 62 pertandingan Real Madrid di semua kompetisi. Walau demikian, transfer dari klub lamanya tetap membekas dan memengaruhi persepsi sebagian suporter.
Kontroversi kepergian dari Liverpool dan reaksi suporter
Empat belas bulan setelah meninggalkan klub masa kecilnya, Alexander-Arnold mengaku masih menerima serangan daring terkait keputusannya. Ia menilai hinaan online itu tetap menyakitkan meski mampu menahan reaksi di stadion: “The booing and disappointment from Liverpool supporters is something I’m absolutely able to shoulder,” katanya. “I can understand it, in my own way. “But I hope one day there’ll be a degree of understanding about the decisions I wanted to make around my own life.” Kendati sempat mendapat cemoohan waktu Real Madrid kalah 1-0 di Anfield dalam pertandingan Liga Champions pada November lalu, Alexander-Arnold menyatakan interaksi langsung dengan pendukung selama pertandingan berbeda dari pelecehan yang ia terima di dunia maya. Ia juga mengaku terus mengikuti setiap laga Liverpool dan menegaskan klub tersebut akan selalu memiliki tempat khusus di hatinya. Alexander-Arnold terakhir kali memperkuat timnas Inggris saat masuk sebagai pemain pengganti pada kemenangan 1-0 atas Andorra pada Juni 2025. Sejak itu, ia belum lagi dipanggil, sehingga masa pengasingannya dari tim nasional kini telah berlangsung lebih dari satu tahun. Meski begitu, sikapnya tegas: “Until I retire, I’m still an England player, whether I’m selected or not. “I’m always available if and when the manager needs me. There’s no bigger honour.” Ia berharap kerja keras di level klub musim ini akan mengembalikan posisinya di skuad nasional. Pemain berpengalaman itu menutup pernyataannya dengan tekad untuk membalikkan situasi. Kekecewaan akibat dicoret tidak akan dibiarkan mengendap; sebaliknya, Alexander-Arnold berusaha menjadikannya motivasi agar kembali tampil bersama Inggris suatu hari nanti.