Tauke Jambu: Bayaran Filem Vertikal di Media Sosial Agak Rendah
Pelawak Tauke Jambu mengatakan bahwa bayaran filem vertikal di platform media sosial tergolong rendah dibandingkan harapan dirinya. Pernyataan ini disampaikan ketika ia membahas alasan menerima tawaran projek digital meski imbalannya tidak besar.

Dikenal dengan nama asli Zamatul Amri Zakaria dan berusia 50 tahun, Tauke menjelaskan ia menerima pekerjaan tersebut karena belum ada tawaran dari stasiun televisi untuknya saat ini. Pernyataan itu disampaikan di Petaling Jaya pada tanggal 12 Agustus 2026.
Menerima projek digital karena keterbatasan tawaran televisi
Tauke mengungkapkan bahwa pilihannya mengambil projek filem vertikal ini bukan semata-mata soal bayaran, tetapi juga berkaitan dengan kondisi penawaran kerja yang dihadapinya saat ini. Dia menegaskan keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan ketersediaan tawaran dari stasiun televisi, yang menurutnya belum ada untuknya saat ini.
Pernyataan itu menegaskan bahwa, bagi sang pelawak, menerima pekerjaan digital merupakan langkah pragmatis menghadapi situasi profesional saat ini. Meski konteks lengkap pembicaraan tidak diurai sampai ke detail nilai kontrak, intinya adalah bahwa bayaran untuk format vertikal di platform media sosial menurutnya relatif rendah.
Pandangan Tauke tentang bayaran dan format vertikal
Dalam keterangannya, Tauke menyinggung secara khusus soal bayaran bagi filem vertikal yang diproduksi untuk platform media sosial. Ia menyebut nilai imbalan yang ditawarkan agak rendah, namun tidak merinci angka atau persentase. Pernyataan ini menggarisbawahi perbedaan persepsi yang mungkin ada bentuk produksi tradisional dan produksi digital vertikal dari sisi kompensasi.
Istilah filem vertikal merujuk pada format video yang dikonsumsi terutama melalui ponsel dan platform media sosial. Menurut Tauke, format inilah yang sedang menjadi pilihan produksi yang ia jalani meski kompensasinya belum sepadan dengan ekspektasi sang artis.
Implikasi bagi karier dan pilihan pekerjaan
Bagi Tauke, mengambil tawaran tersebut adalah respon praktis terhadap kondisi pasar kerja saat ini bagi dirinya. Ia memilih tetap aktif berkarya walau dalam format yang menurutnya menawarkan bayaran lebih rendah, dengan alasan ketiadaan tawaran dari televisi yang saat ini belum datang.
Pernyataan ini memberi gambaran tentang bagaimana seorang pelawak berpengalaman menimbang eksposur kerja, kontinuitas berkarya, dan kompensasi finansial. Keputusan untuk menerima projek digital menunjukkan adanya fleksibilitas personal dalam mempertahankan aktivitas profesional meski kondisi ekonomi proyek berbeda.
Pada akhirnya, apa yang diungkapkan Tauke Jambu tentang bayaran filem vertikal di platform media sosial menyampaikan pengalaman pribadi seorang artis yang menyesuaikan pilihan kerja berdasarkan situasi tawaran yang tersedia. Ia menegaskan bahwa keputusan menerima projek tersebut didasari oleh kondisi tawaran kerja dari televisi yang belum ada, bukan semata karena preferensi terhadap format tertentu.