Mojib Latif: Krisis air global dan hambatan perubahan
Mojib Latif, ilmuwan iklim yang sejak 1980-an memperingatkan bahaya pemanasan global, kembali mengangkat isu mendesak: krisis air global. Dalam buku terbarunya berjudul “Wasser – das bedrohte Element”, Latif menyoroti kelangkaan air tawar sebagai masalah yang berpotensi memicu konsekuensi luas bagi masyarakat dan ekosistem.

Meski telah lama memperingatkan dampak perubahan iklim, Latif mengakui pengalaman pahit: pengetahuan ilmiah tidak otomatis diterjemahkan menjadi kebijakan atau perubahan perilaku. Ia bahkan menyatakan dalam satu pernyataan yang tajam: “Ich glaube, dass die Menschen in Deutschland keine Veränderungen wollen”.
Perjalanan peringatan sejak 1980-an
Latif dikenal luas sebagai salah satu wajah publik dalam diskursus perubahan iklim di Jerman. Sejak 1980-an ia menuliskan dan memperingatkan tentang pemanasan global, namun sering kali suaranya tidak langsung direspons oleh pembuat kebijakan atau masyarakat secara luas. Ia mengakui bahwa pada masa muda ia berpegang pada keyakinan sederhana bahwa semakin besar bukti ilmiah, semakin besar kemungkinan tindakan akan diambil. Seiring waktu, keyakinan itu pudar.
Dalam paparan singkatnya, Latif menyebut beberapa penyebab mengapa pesan ilmiah sulit mendorong perubahan cepat. Ia mengungkapkan bahwa ada faktor psikologis dan kognitif yang ikut menentukan bagaimana masyarakat merespons ancaman jangka panjang, dan merujuk pada penjelasan dari bidang ilmu lain yang membantu menjelaskan respons manusia terhadap bahaya yang tidak langsung terasa.
Buku terbaru: fokus pada kelangkaan air tawar
Judul buku terbaru Latif, “Wasser – das bedrohte Element”, menempatkan perhatian pada air tawar sebagai elemen yang semakin terancam. Buku ini merupakan karya ke-17 dari Latif, yang tetap aktif menulis dan berupaya menjembatani jurang pengetahuan ilmiah dan tindakan publik. Salah satu pertanyaan sentral yang diangkat adalah apakah dunia menghadapi kemungkinan “kebangkrutan air” secara global—sebuah kerawanan yang mencakup ketersediaan, akses, dan kualitas air tawar.
Tanpa masuk ke detail teknis yang dipaparkan dalam buku, fokus Latif terhadap air tawar menegaskan bahwa isu ini tak bisa dipisahkan dari diskusi perubahan iklim, tata kelola sumber daya, dan pola konsumsi. Perhatian pada air juga mencerminkan pergeseran wacana iklim ke aspek-aspek yang langsung mempengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat.
Sikap publik dan tantangan kebijakan
Latif menyoroti jurang yang lebar mengetahui dan bertindak. Meski data ilmiah tentang perubahan iklim dan kelangkaan sumber daya semakin kuat, respons kolektif kerap terhambat oleh resistensi sosial, kepentingan ekonomi, dan keterbatasan politik. Pernyataan beliau tentang sikap masyarakat Jerman terhadap perubahan menimbulkan refleksi lebih luas: bagaimana membangun konsensus dan komitmen yang memadai agar peringatan ilmiah bisa diikuti tindakan konkret?
Identitas personal Latif juga muncul dalam percakapan publik. Ia menyebut dirinya sebagai “waschechten Hamburger”, sementara banyak pihak menganggapnya sebagai salah satu ilmuwan iklim paling dikenal di Jerman. Dengan karya terbarunya, Latif berupaya terus memberikan suara dan argumentasi yang menempatkan kelangkaan air tawar sebagai prioritas dalam agenda lingkungan dan kebijakan.
Meski tantangan besar tetap ada, buku ini menandai upaya berkelanjutan seorang ilmuwan yang mencoba menjembatani analisis ilmiah dengan kebutuhan untuk mendorong perubahan nyata. Wacana tentang krisis air global yang diangkat Latif mengingatkan kembali pentingnya menghubungkan bukti, komunikasi, dan tindakan publik.