Ringgit terhadap dolar as: Ringgit Menguat terhadap Dolar AS
Ringgit terhadap dolar AS ditutup lebih tinggi pada perdagangan hari Senin, seiring berlanjutnya ketidakpastian geopolitik di Asia Barat yang membuat pelaku pasar menilai ulang aset berisiko. Penguatan ini juga tercatat terhadap mata uang utama lain serta sejumlah mata uang regional.

Pada jam 6 petang, mata uang lokal tercatat menguat ke 4.0680/0730 berbanding dolar AS, naik dari penutupan Jumat lalu pada 4.0695/0745. Pergerakan tersebut mencerminkan sentimen defensif pasar terhadap perkembangan terbaru di kawasan.
Pendorong utama penguatan
Para analis mencatat bahwa ketegangan geopolitik AS dan Iran serta kekhawatiran atas arus pelayaran di Selat Hormuz menjadi faktor sentral yang mempengaruhi nilai tukar. Selain itu, harga minyak mentah yang tetap tinggi turut menjadi pendorong sentimen pasar.
Data menunjukkan harga minyak mentah West Texas Intermediate diperdagangkan pada US$73.02 per barel, sementara Brent berada di US$77.80 per barel. Menanggapi kondisi pasar, Ketua Ahli Ekonomi Bank Muamalat Malaysia Bhd, Dr Mohd Afzanizam Abdul Rashid, mengatakan bahwa pelaku pasar terus menilai ketidakpastian terkait gencatan senjata AS-Iran serta aliran bebas kapal yang melalui Selat Hormuz.
Beliau juga mengingatkan aspek kebijakan moneter AS yang mempengaruhi dolar: “Sementara itu, niaga hadapan kadar faedah AS menunjukkan 55.7 peratus kebarangkalian peningkatan Kadar Dana Persekutuan sebanyak suku mata pada September.” Pernyataan itu menegaskan bahwa prospek kenaikan suku bunga AS tetap menjadi faktor yang dapat menopang dolar dalam jangka pendek.
Perbandingan dengan mata uang utama
Penutupan akhir perdagangan menunjukkan ringgit menguat terhadap beberapa mata uang utama:
- Yen Jepang: 2.5110/5142 dari 2.5148/5181 pada penutupan Jumat lalu.
- Pound Inggris: menguat ke 5.4475/4542 dari 5.4572/4639.
- Euro: sedikit menguat ke 4.6501/6558 dari 4.6502/6559.
Pergerakan ini mencerminkan kondisi pasar yang cenderung mengutamakan aset berdenominasi dolar, namun ringgit menunjukkan stabilitas relatif dibanding beberapa mata uang utama lainnya.
Kinerja terhadap mata uang regional
Ringgit juga menunjukkan kinerja yang lebih baik terhadap sejumlah mata uang negara tetangga, dengan catatan sebagai berikut:
- Dolar Singapura: menguat ke 3.1489/1530 dari 3.1520/1561.
- Rupiah Indonesia: menguat ke 224.6/225.0 dari 225.2/225.6.
- Baht Thailand: naik ke 12.1953/2151 dari 12.2101/2302.
- Peso Filipina: sedikit menguat ke 6.60/6.62 dari 6.61/6.62.
Penguatan terhadap mata uang serantau ini menunjukkan bahwa meskipun dolar AS tetap menjadi kekuatan dominan, ringgit memiliki dukungan dari sentimen regional dan harga komoditas yang tinggi.
Secara keseluruhan, pergerakan ringgit mencerminkan kombinasi faktor geopolitik, harga minyak, dan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter AS. Pelaku pasar diperkirakan akan terus memantau perkembangan gencatan senjata AS-Iran serta indikator ekonomi dan keputusan tingkat suku bunga yang dapat mempengaruhi arah dolar dan mata uang regional dalam waktu dekat.