Azeem Fahmi Buka Suara soal Jurulatih Pecut Baru
Azeem Fahmi menanggapi dengan hati terbuka pengangkatan ketua jurulatih pecut baru, Thabo Matebedi, yang berasal dari Afrika Selatan. Namun, sprinter nasional itu menegaskan pentingnya kelanjutan program latihan yang sudah berjalan bersama pelatihnya saat ini, Ken Harnden, sampai akhir musim.

Pernyataan Azeem muncul di Nadi Arena, ketika ia juga mempersiapkan diri untuk berangkat ke China guna mengikuti Kejohanan Olahraga B-23 yang dimulai Isnin depan. Ada tujuan ganda yang ia pegang: mengejar catatan di bawah 10 dan berusaha masuk ke podium pada setiap kesempatan kompetitif yang dihadapi sebelum Sukan Asia Aichi-Nagoya mulai 19 September mendatang.
Sikap terhadap pergantian pelatih
Azeem menyambut kehadiran Thabo Matebedi dengan syarat bahwa segala perubahan tidak mengganggu program latihan yang telah ia jalani. Ia menekankan perlunya transisi yang teratur agar perkembangan yang sudah dicapai tidak terhambat oleh pergantian staf di tengah musim. Dalam paparan singkatnya di Nadi Arena, ia berkata, “Buat masa ini, matlamat kami akan kekal bersama Ken Harnden hingga habis musim ini memandangkan kami sudah di bawah programnya sejauh tahun lalu. “Mungkin apa-apa keputusan (lain) bergantung selepas Sukan Asia,” katanya di Nadi Arena.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa Azeem memilih pendekatan pragmatis: membuka diri terhadap arahan baru, tetapi menuntut kepastian terhadap kontinuitas program yang selama ini menjadi dasar pembangunannya sebagai pelari pecut nasional.
Prioritas performa: catatan di bawah 10 dan medali
Target pribadi Azeem tetap pada peraihan catatan di bawah 10, sekaligus mempertahankan fokus pada misi mencari podium. Menjelang perjalanan ke Kejohanan B-23, ia menegaskan bahwa catatan waktu menjadi tolok ukur utama bagi latihan sprint yang digelutinya.
Dalam pengamatannya terhadap tekanan prestasi, Azeem mengakui adanya obsesi terhadap angka-angka waktu, namun ia menekankan bahwa hasil nyata berupa medali lebih bermakna daripada sekadar catatan waktu impresif tanpa hasil. Ia menyampaikan pandangannya secara lugas: “Sebagai pelari pecut, (prestasi) latihan saya hanyalah berkisar kepada catatan 10s. “Memanglah masuk final dan memecahkan catatan peribadi adalah satu pencapaian yang baik, tapi saya lebih rela menang (pingat) Sukan Olimpik dengan catatan 10.3s berbanding 9.8s tapi menduduki tempat tercorot,” katanya lagi.
Dampak pergantian di tengah musim dan persiapan menuju Sukan Asia
Azeem mengingatkan bahwa perubahan staf teknis sebaiknya dilakukan dengan pertimbangan waktu agar tidak merusak ritme persiapan atlet. Kekhawatiran itu muncul karena Sukan Asia Aichi-Nagoya dijadwalkan berlangsung pada 19 September, sehingga setiap gangguan di tengah musim berpotensi memengaruhi target medali yang disasar.
Untuk saat ini ia memilih tetap berada dalam program Ken Harnden sampai akhir musim, sambil siap menilai kembali setelah Sukan Asia. Sikap ini juga dimaksudkan untuk menjaga stabilitas persiapan menuju kompetisi internasional yang akan dihadapi secara berurutan.
Dengan fokus pada target teknis dan hasil kompetitif, Azeem menyusun prioritas yang jelas: mempertajam kecepatan hingga menembus bawah 10, tetap kompetitif dalam ajang-ajang yang akan dijalani, dan memastikan bahwa setiap upaya perubahan dalam tim pelatih tidak mengorbankan misi meraih prestasi di pentas besar.
Keberangkatan Azeem ke Kejohanan Olahraga B-23 di China menjadi salah satu langkah uji coba terakhir sebelum penilaian akhir terhadap strategi persiapan menjelang Sukan Asia Aichi-Nagoya. Ia dan tim kini menunggu hasil kompetisi itu sebagai bagian dari evaluasi berkelanjutan terhadap program latihan yang dijalani.