Aniq Suhair Dalami Dialek Perak untuk ‘Ate Kome I Love You’
Aniq Suhair menyahut cabaran baru dalam karier lakonannya dengan mendalami dialek Perak demi menjayakan watak Mamat dalam drama romantik komedi Ate Kome I Love You. Upaya ini dilakukannya agar dialog dan cara bicaranya tidak terdengar dibuat-buat dan lebih dekat dengan penonton dari Perak.

Untuk mempersiapkan peranan tersebut, Aniq mengikuti kelas intensif dialek Perak selama lima hari sebelum penggambaran bermula. Langkah ini menunjukkan komitmennya untuk membawa watak secara autentik tanpa bergantung pada stereotip atau pengucapan yang kelihatan dipaksakan.
Persiapan intensif sebelum penggambaran
Kelas intensif yang diikuti Aniq berlangsung dalam jangka pendek namun intens, dengan fokus pada nuansa sebutan dan ungkapan tempatan yang khas. Tujuan utama persiapan ini adalah agar watak Mamat tampil meyakinkan di layar dan berinteraksi selaras dengan latar budaya yang diwakili.
Kesiapan bahasa dan dialek menjadi titik perhatian utama bagi Aniq. Ia menegaskan pentingnya bekerja lebih keras untuk menguasai intonasi dan pilihan kata agar penonton dari Perak tidak merasa terasingkan atau terganggu oleh penyampaian yang tidak tepat. Pernyataan “Tak Mahu Kedengaran Dibuat-Buat,” mencerminkan sikap profesionalnya dalam memerankan watak tersebut.
Perlakuan watak dan keinginan tampil autentik
Mengambil pendekatan serius terhadap aspek dialek menunjukkan bagaimana seorang pelakon menilai tanggung jawabnya terhadap representasi budaya. Bagi Aniq, mendalami dialek Perak bukan sekadar latihan teknikal, melainkan usaha untuk menghormati masyarakat yang menjadi latar cerita.
Dalam konteks drama romantik komedi, unsur komedi sering bergantung pada dialog dan timing. Oleh karena itu, penguasaan dialek membantu menjaga ritme komedi tanpa mengorbankan kredibilitas watak. Upaya ini juga mendukung interaksi yang natural watak-watak lain dalam produksi.
Pengalaman bekerja bersama pemeran lain
Aniq turut berkongsi momen berharga sepanjang proses penggambaran, termasuk pengalaman berada satu ‘frame’ dengan Amy Mastura. Ia menuturkan pengalaman tersebut sebagai bagian dari perjalanan profesionalnya di set. Walaupun tidak dirinci secara panjang lebar, pertemuan itu menjadi catatan penting dalam proses pembelajaran dan kolaborasi antarpelakon.
Kolaborasi semacam ini kerap memberi dorongan kepada pelakon muda untuk meningkatkan persiapan dan spontanitas ketika berlakon. Interaksi langsung dengan rakan sepelakon yang berpengalaman juga membantu memperkaya pendekatan lakon dan membentuk dinamika yang lebih realistik di hadapan kamera.
Akhirnya, komitmen Aniq Suhair untuk menguasai dialek Perak dan persiapannya sebelum penggambaran diharapkan memberi hasil yang meyakinkan bagi penonton. Dengan pendekatan yang serius terhadap aspek bahasa dan budaya, pelakon tersebut berusaha memastikan watak Mamat dapat diterima dan dirasakan autentik oleh khalayak, terutama mereka yang mengenal nuansa Perak.
Drama Ate Kome I Love You menempatkan tuntutan tersendiri bagi para pemainnya, dan usaha seperti yang dilakukan Aniq menunjukkan betapa detail kecil—seperti penguasaan dialek—dapat memengaruhi kualitas penceritaan secara keseluruhan.