MATFA desak Selangor kaji pengelasan taman permainan anak
Persatuan Taman Tema dan Tarikan Keluarga Malaysia (MATFA) meminta Kerajaan Negeri Selangor meninjau kembali rencana mengklasifikasikan taman permainan anak di bawah kategori Lesen Hiburan. Organisasi itu memperingatkan bahwa perubahan klasifikasi berpotensi menaikkan yuran pelesenan tahunan secara drastis dan membebani pengelola serta keluarga berpendapatan rendah dan menengah.

Presiden MATFA, Tan Sri Richard Koh, menyatakan keprihatinan atas dampak langsung pada akses rekreasi yang terjangkau jika langkah itu diteruskan. Koh menyoroti lompatan biaya yang diperkirakan dan menyerukan pertimbangan ulang kebijakan demi menjaga ruang bermain yang aman dan terjangkau bagi keluarga.
Dampak kenaikan yuran dan posisi MATFA
Menurut perhitungan yang disampaikan MATFA, pengelasan semula ke Lesen Hiburan akan menyebabkan yuran tahunan melonjak dari RM500 menjadi RM6,390—naik hampir 13 kali lipat. Lonjakan tersebut, kata organisasi, akan menambah tekanan keuangan pada pengelola fasilitas permainan anak yang selama ini menyediakan alternatif rekreasi terjangkau bagi keluarga, khususnya kelompok B40 dan M40.
Dalam pernyataannya, Richard Koh menegaskan keprihatinan MATFA secara lugas: “Kami merayu kepada kerajaan negeri supaya mempertimbangkan semula rancangan untuk mengklasifikasikan taman permainan kanak-kanak di bawah kategori Lesen Hiburan, yang akan menyebabkan lonjakan yuran tahunan daripada RM500 kepada RM6,390,” katanya dalam kenyataan hari ini.
Usulan alternatif dan pengecualian
MATFA mengusulkan agar taman permainan anak tetap dikategorikan di bawah lesen rekreasi, bukan lesen hiburan. Selain itu, persatuan meminta agar dipertimbangkan pengecualian atau keringanan yuran bagi fasilitas yang melayani golongan berpendapatan rendah, sehingga akses bagi keluarga B40 dan M40 tidak terkikis akibat biaya tambahan.
Organisasi itu juga menyambut Pakej Pengukuhan Daya Tahan Selangor Fasa Dua bernilai RM209.26 juta sebagai langkah dukungan ekonomi, namun mengingatkan agar sektor tarikan keluarga tidak diabaikan ketika bantuan dialokasikan. MATFA berharap kebijakan fiskal dan perlesenan dibuat dengan mempertimbangkan keberlanjutan pengusaha kecil dan ketersediaan ruang rekreasi untuk masyarakat umum.
Tuntutan soal cukai dan insentif
Selain menyoroti isu perlesenan di tingkat negeri, MATFA mengulangi seruannya kepada pemerintah federal agar mempertimbangkan pencabutan Akta Duti Hiburan 1953, yang menurut persatuan sudah tidak relevan lagi dan memberatkan konsumen. Dalam pernyataannya, Koh menyampaikan kritik tajam terhadap beban pajak ini:
“Akta Duti Hiburan mengenakan cukai sehingga 25 peratus ke atas setiap tiket taman tema, taman air dan tarikan keluarga. Cukai ini tidak dibayar oleh pengendali, sebaliknya ditanggung oleh rakyat. “Dalam h yang mencabar ini, adalah tidak wajar untuk mengenakan cukai kepada keluarga. Thailand, Singapura dan Hong Kong tidak mengenakan cukai sedemikian. Keluarga Malaysia kini berkunjung ke Hatyai kerana kos di sana lebih berpatutan,” katanya.
Selain pemansuhan duti, MATFA menganjurkan pemberian insentif pajak kepada pengelola yang menyediakan program rekreasi khusus untuk keluarga B40 dan M40. Langkah tersebut dianggap relevan demi mempertahankan ruang publik rekreasi yang membantu masyarakat berehat dan mengurangi tekanan sosial ekonomi.
Komitmen kerja sama dengan pemerintah
MATFA menegaskan komitmennya untuk bekerja sama dengan kerajaan negeri dan pihak berkuasa tempatan dalam merancang kerangka regulasi modern yang mendukung keberlanjutan industri tarikan keluarga. Persatuan berharap regulasi baru dapat menyeimbangkan aspek keselamatan, kemampuan operasional usaha kecil, serta akses masyarakat terhadap rekreasi keluarga.
Dengan usulan kebijakan yang lebih berpihak kepada pengelola kecil dan konsumen, MATFA berpendapat Selangor bisa memperkuat posisinya sebagai destinasi utama rekreasi keluarga dan pariwisata regional tanpa mengorbankan akses terjangkau bagi warga.